Jiwa yang lemah akan selalu goyah dalam menghadapi suatu cobaan, tidak punya pendirian dan mudah patah ditengah jalan. Kelemahan jiwa seperti ini mudah dijangkiti penyakit hati yang disebut dengan putus asa. Bila putus asa ini sudah bercokol dalam hati seseorang, ia akan memperlemah semangat hidupnya, lumpuh sebelum berjuang, takut terhadap kritik dan nasehat, juga dapat menimbulkan sikap apatis terhadap semua pekerjaan yang dilakukan.
Banyak orang yang mengaku sebagai sarjana, cendikiawan, dokter bahkan ada yang mengaku sebagai professor yang menjadi pakarnya ilmu tertentu yang melakukan bunuh diri. Hal ini dikarenakan lemahnya hati, yang membuatnya tidak tahan dalam menghadapi cobaan hidup dan nyalinya ciut, seperti tidak ada jalan keluar lagi dalam menyelesaikan setiap problem, kecuali dengan bunuh diri. Inilah akibat yang sangat tragis yang disebabkan oleh putus asa.
Jika penyakit putus asa sudah bersarang dalam hati seseorang, maka lenyaplah kekuatannya. Bila harapan sudah hilang dari dalam jiwanya, maka lemahlah dirinya, tidak punya kekuatan untuk bangkit dan berjuang demi meraih cita-cita.
Jauhkan kelemahan dari dalam hati, sebab penyakit ini akan lebih dalam tusukannya dari pada ujung pedang yang tajam, dan jauh lebih berbahaya dari pada penyakit badan.
Lemah hati adalah penyakit yang bisa membawa diri manusia seperti binatang jinak, bisu seribu bahasa, statis dan hanya bergerak melalui dorongan-dorongan naluriyah belaka, bersenang-senanglah dan mencari kepuasan. Lemah hati ini merupakan gejala-gejala dari putus asa yang akan melahirkan watak pengecut yang lari dari kenyataan hidup.
Allah telah memperingatkan kepada kaum muslimin agar jangan mudah putus asa dalam segala pekerjaan dan problematika hidup, lebih-lebih berputus asa terhadap rahmad-Nya.
Putus asa adalah penyakit yang membawa sesak nafas, meruntuhkan segala harapan dan segala cita-cita, melemahkan semangat juang dan gairah kerja.
Andaikan menyodorkan suatu rencana yang besar kemungkinan bisa dikerjakan oleh rata-rata setiap orang, dilengkapi dengan manfaatnya yang pasti akan kembali pada dirinya, untuk masyarakat, Negara, dan Agamanya, pastilah mereka yang didalm hatinya menyimpan rasa apatisme, akan banyak mengajukan alasan-alasan yang tidak logis. Yang sebenarnya alasan itu hanya dibuat-buat karena ia melihat suatu pekerjaan dengan perasaan was-was dan takut hingga kepercayaan itu bukan alasan, karena keadaan itu merupakan sebab dari rasa keputus asaan.
Tidak ada orang yang bisa berbuat tanpa keyakinan bahwa dari usahanya itu akan membuahkan hasil yang berguna, bisa untuk pribadi maupun untuk masyarakat dimana ia hidup dan berhutang budi.
Dalam hal ini ada dua alternatif. Ada orang yang tidak mau berusaha kalau dirinya tidak yakin betul bahwa usahanya akan membuahkan hasil, ada juga yang berusaha dengan penuh perhitungan dan kehati-hatian jangan sampai mengalami kegagalan.