Tiga hal ini dalam fenomena empirik terkadang sama. Ketiganya sering kali menimbulkan kejadian-kejadian yang tidak lumrah, aneh dan supranatural. Sihir mampu mendatangkan kekuatan secara gaib, begitu juga dengan mu'jizat dan karomah. Ketiganya juga sama-sama bisa mendatangkan efek-efek yang tidak rasional dan tidak diketahui sebab-musababnya. Karena itu, tidak jarang orang salah menilai sihir. Kekuatan sihir dianggap karomah atau mu'jizat, atau sebaliknya, kekuatan mu'jizat atau karomah dinilai sihir. Hal ini sudah barang tentu menguburkan batas-batas kebenaran. Di bawah ini akan disebutkan lima perbedaan di antara tiga hal tersebut.
- Sihir diperoleh dari belajar dan pengalaman, serta didapat dengan membiasakan mengucapkan kata-kata sihir atau perbuatan sihir. Sedangkan karomah adalah pemberian dan karunia Allah swt yang dalam perolehannya bukan kehendaknya dan tidak ada pengurbanan. Mu'jizat juga hampir sama dengan karomah, tetapi anugerah ini hanya diberikan kepada para nabi dan rasul saja.
- Mu'jizat dan karomah tidak akan bisa dimiliki oleh orang fasiq dan jahat, sedangkan sihir tidak akan muncul kecuali dari orang jahat. Kejahatan adalah sumber kekuatan sihir, sedangkan kebaikan adalah sumber kekuatan mu'jizat dan karomah.
- Mu'jizat tidak mungkin dilenyapkan, sedangkan sihir bisa dilenyapkan.
- Sihir bisa dimiliki oleh siapa saja, perorangan atau atau kelompok. Sedangkan mu'jizat tidak mungkin ditiru atau dipelajari oleh siapapun.
- Mu'jizat benar-benar sesuatu yang nyata, baik segi zahir maupun batinnya. Artinya, bukan khayalan atau reka-rekaan. Sedangkan sihir meskipun secara zahir seperti sesuatu yang luar biasa, hakikatnya adalah bukan, karena kekuatan yang dimunculkan adalah kekuatan nisbi atau permainan. Bahkan, kekuatannya tidak lepas dari hukum sebab-akibat yang dikehendaki Allah swt.
Cara Kerja Penyihir
Jika seseorang, laki-laki maupun wanita, mendatangi tukang sihir untuk minta bantuan, pasti tukang sihir untuk minta bantuan, pasti tukang sihir itu akan mengajukan pertanyaan dan berbagi permintaan, seperti siapakah nama calon korban atau sasaran yang hendak disihir? Siapakah nama ibunya? setelah dua pertanyaan itu dijawab, penyihir akan meminta sesuatu yang menjadi milik pribadi calon korban, seperti rambutnya, kukunya, potongan pakaiannya atau fotonya.
Mengapa yang ditanyakan adalah ibunya, dan bukan nama ayah calon korban? karena tukang sihir dan tuannya, yaitu jin, adalah makhluk yang mengingkari agama, syari'at langit dan bahkan menghinakannya. Ia tidak mengenal atau tidak mengakui akad nikah syar'i. Seperti orang yang datang kepada tukang sihir, maka di matanya ia dipandang sebagai anak zina. Setelah itu penyihir akan menghitung huruf nama korban dan ibu korban sekaligus. Jika susunan huruf dari dua nama itu dipandang lebih dekat pada tanah, maka sihirnya ditanam di bumi; atau jika lebih dekat dengan air, maka sihirnya diletakkan di air, dalam sumur umpama, seperti yang pernah dilakukan Labid bin A'sham ketika menyihir Rasulullah saw. Ketika ia menghitung nama Rasulullah, ia menemukan bahwa di dalam nama Muhammad dan ibunya, Aminah, terdapat huruf mim dan alif yang posisinya lebih dekat dengan air, maka sihirnya diletakkan dalam sumur Dzarwan.
Penyihir meletakkan sihirnya terkadang di sumur, di laut atau menuliskannya di tubuh ikan, lalu dilepaskan kembali ke sungai, dan jika dekat dengan pepohonan, sihir kadang juga digantungkan di atas pohon atau tembok. Setelah itu, penyihir menyalakan dupa untuk mengundang jin karena jin makan uap. Setiap sihir punya jenis dupa tersendiri. Di saat menyalakan dupa, penyihir mempertegas lagi kekufurannya dengan memuja-mujanya. Kemudian dilanjutkan menulis jimat, yang fungsinya sebagai risalah ibadah untuk jin, mengagung-agungkan mereka dan sekaligus untuk menghinakan Kalamullah. Selain itu, penyihir juga disyaratkan menghadiri atau mengadakan perayaan tertentu di bulan dan hari tertentu yang akan dihadiri oleh para jin, menyembelih hewan korban dengan cara keji, memakan makanan tertentu, menjauhi manusia dengan menyendiri di kamar yang gelap pada saat-saat tertentu. Setelah ini, penyihir memerintahkan jin untuk mendatangi calon korban dan menimpakan bencana kepadanya.