Keberhasilan Hari Akhirat

Orang yang tidak pernah melihat orang yang berhasil tidak akan berhasil, itulah yang dikatakan oleh sebagian ahli sufi. Imanmu belum hidup jika engkau masih melihat keberhasilan orang dengan mata kepalmu, bukan dengan mata hati dan nuranimu. Allah swt berfirman, "Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta itu adalah hati yang didalam dada." (Q.S. Al-hajj[22]:46)

Orang yang menjual agama dengan buah tin, itulah orang yang tamak dalam mengambil dunia dari tangan makhluk. Artinya, ia telah menukar perkara yang kekal dengan perkara yang fana. Sudah barang tentu ia tidak akan memperoleh keuntungan. Selagi imanmu kurang, meski berusaha memperbaiki kehidupanmu. Jangan sampai engkau menukar agamamu dengan makanan mereka. Engkau pasti bertakwa kepada Allah swt jika imanmu kuat, dan engkau akan keluar dari asbab serta tekun beribadah. Dari dalam hatimu akan keluar keluargamu, negerimu, bahkan toko dan kenalanmu, seandainya saja engkau pergi meninggalkan segala sesuatu dengan hatimu. Setelah itu engkau menyerahkan segala sesuatu yang ada ditanganmu kepada keluarga dan kawan-kawanmu. Semua itu engkau lakukan karena seolah-olah malaikat maut telah mencabut nyawamu, seolah-olah malaikan telam membawamu pergi. Seolah-olah bumi telah terbelah dan menenggelamkanmu dari laut ilmu dan ruangmu. Bagi orang-orang telah sampai pada derajat ini, maka asbab tidak lagi membahayakannya. karena asbab hanya bersifat lahiriyah bukan batiniah. Asbab itu berlaku untuk orang lain, bukan untuk dirinya.

Seandainya saja engkau tidak mampu melaksanakan apa yang aku katakan ini, wahai ghulam, yakni keluar dari asbab dan harimu bergantung pada asbab tersebut, dan jika engkau tidak mampu melaksanakan sepenuhnya, hendaknya engkau melaksanakan sebagian. Nabi saw bersabda, " Kosongkanlah dari cita-cita dunia semampumu."

Jika engkau mampu, wahai ghulam, kosongkanlah hatimu dari cita-cita dunia. Jika engkau tidak mampu, melangkahlah dengan hatimu kepada Al-Haq 'Azza wa jalla. Hendaklah engkau berpegang pada tali rahmat-Nya sehingga cita-cita dunia keluar dari dalam hatimu. Sesunggunya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, setiap sesuatu berada ditangan-Nya. Tetaplah engkau berada di pintu-Nya, bermohonlah kepada-Nya agar hatimu dibersihkan dari selain Dia dan agar hatimu dipenuhi dengan iman, ma'rifat, ilmu, dan kaya bersama-Nya, bukan bersama makhluk-Nya. Bermohonlah kepada-Nya agar Dia memberikan kepadamu keyakinan dan ketentraman hati, dan menyibukkan dirimu untuk mena'ati-Nya. Mohonlah semua hajatmu kepada-Nya, jangan kepada selain Dia, dan janganlah engkau merendahkan diri kepada sesama makhluk.

Kefasihan lisan tanpa amalan hati, wahai ghulam, tidak akan mengantarkanmu kepada Al-Haq 'Azza wa jalla. Inilah perjalanan hati, amalan ini juga merupakan amalan hati dengan menjaga batas syari'at dan tawadhu' kepada-Nya, dengan menjalankan ibadah. Sesungguhnya tidak ada harga baginya jika seseorang menganggap dirinya berharga. Orang yang menampakkan amalannya kepada makhluk, pada hakikatnya ia tidak beramal. Kerjakanlah amalan pada waktu sepi, janganlah menampakkan amalan, terkecuali amalan wajib yang memang harus ditampakkan. Hendaklah engkau melandasi amalanmu dengan tauhid dan ikhlas, kemudian dengan kekuatan Allah swt bangunlah amalanmu, bukan dengan upaya dan kekuatanmu. Sesungguhnya yang membangun adalah Tangan tauhid,bukan tangan niatmu. Bukan dengan nifaq dan syirik yang membangun, tetapi Tangan tauhid. Barangsiapa yang bertauhid, maka amalannya akan naik. Tidak demikian halnya dengan orang munafik. Jauhkanlah kami ya Allah, dari sifat munafik dalam seluruh keadaan kami. Karuniakanlah kepada kami kebaikan dunia dan akhirat, dan peliharalah kami dari adzab api neraka.